Oktober 2019

Sebelum berbicara tentang oktober 2019 saya akan mencoba untuk sedikit flashback pada oktober 2016

10 Oktober 2016

Ada percakapan tentang surga antara kami di hari ulang tahun saya pada tahun 2016. Jujur saya rindu dia yang dulu, sangat rindu.

Hampir setiap tahun di bulan ini saya selalu merancang banyak rencana mulai dari makan bersama keluarga, teman dan lain sebagainya. Sejak beberapa tahun terakhir saya berjanji pada diri sendiri untuk menghilangkan kebiasaan tiup lilin di hari ulang tahun tapi nyatanya tahun kemaren masih harus meniup lilin, ya sudahlah.


Lalu bagaimana dengan tahun ini?


Apa yang terjadi pada tanggal 10 Oktober 2019?


Tidak ada yang istimewah, seperti biasa setiap pagi saya pergi ke kantor bekerja dan melakukan aktivitas setengah hati.


Beberapa hari sebelum dan sesudah tanggal itu saya terlibat ehm bukan terlibat sich lebih tepatnya terseret pada satu masalah yang cukup rumit. Entah harus dari mana saya menulisnya terlalu panjang bak novel.


Dia bilang “Dunia terasa sempit bagiku, semua teman-teman yang ku kenal juga kau kenal”.

Bagi dia dunia ini sempit tapi bagi saya takdir seperti bermain di depan saya. Bagaimana tidak? Semua terjadi begitu saja seperti bola es yang menggelinding di atas dataran salju.


Masih ingat Handzaki? Salah satu tokoh yang ada dalam novel saya Left In Jeddah. Seorang pria yang sedang tinggal dan bekerja di Jeddah. Apa yang terjadi dengan Dzaki?


Beberapa bulan terakhir kami tidak berkomunikasi, kenapa? Anggap saja saya sedang menata hati karena lelah terus menerus di pecahkan oleh dia.


Hingga akhirnya salah satu teman menyebut namanya. Lalu apa yang saya lakukan? Apakah saya hanya diam saja? Coba dech kalian jadi saya, berada di posisi saya. Setelah beberapa bulan mencoba dan memaksa diri menutup mata dan telinga tiba-tiba harus kembali mendengar nama itu, yakin diam aja? Yakin dalam benak tidak meronta untuk bertanya lebih tentangnya?


Saya tidak munafik, pertanyaan itu muncul dari saya. Pertanyaan yang menurut saya wajar jika saya utarakan kepada teman saya setelah mendengar nama Dzaki.


Sedikit tidak percaya tapi itu lah jawabannya. Bahwa Dzaki sedang dalam keadaan tidak benar-benar baik, terlebih tentang hatinya. Teman saya berkata bahwa dia merasa kasihan dan iba terhadap Dzaki tapi entah rasa kasihan dan iba itu sama sekali tidak menyentuh hati saya. Bagi saya Dzaki adalah orang yang pernah menyakiti saya tidak lebih.


Di hari selanjutnya saya kembali berbincang dengan orang yang berbeda, namanya Yas. Dia teman saya. Saya mengenalnya kurang lebih satu tahun terakhir. Yas sangat baik dia selalu ada waktu untuk mendengar keluh kesah saya, saat saya bertanya kenapa dia melakukan ini semua? Yas menjawab bahwa suatu hari dirinya juga akan berada di posisi dan masalah yang sama seperti saya. Yas adalah orang yang sangat tulus.


Hingga akhirnya nama Dzaki kembali harus hinggap di telinga saya tapi kali ini dari mulut Yas.


Seperti yang pernah Dzaki bilang bahwa dunia ini sempit, ya harus saya akui itu. Nyatanya Yas, salah satu orang yang paling saya percaya ternyata tak lain merupakan sepupu dari tunangan Dzaki. Lambat laun perbincangan kami menjurus padanya.


Yas bertanya banyak hal tentang Dzaki, di sinilah posisi sulit bagi saya itu dimulai.


“Apakah Dzaki punya masa lalu?”
“Apa yang kamu tau tentang Dzaki?”
“Ada perempuan lain dalam hidupnya?”


Apa yang harus saya lakukan? Haruskah saya jujur dan mengatakan semua yang baru saja saya ketahui mengenai kabar Dzaki bahwa dia sedang tidak baik-baik saja? Haruskah saya jujur dan mengakui bahwa beberapa hari yang lalu saya mendengar dari teman saya bahwa Dzaki berkata dirinya masih menyimpan perasaan untuk perempuan lain sementara di sisi lain tunangan Dzaki tak lain adalah sepupu dari Yas? Haruskah saya jujur dan mengutarakan semua ini pada Yas?

Dengan sangat terpaksa saya harus membohongi Yas. Tujuan saya tak lain tentunya supaya tidak menyakiti hati siapa pun. Saya dan dia sama-sama perempuan.


“Insha Allah semua akan baik-baik saja”. Ucapku meyakinkan Yas saat itu.


Yas bukan perempuan bodoh yang bisa dengan mudah percaya pada perkataanku. Dia terus saja memberondongiku dengan berbagai macam pertanyaan. Dia tau apa yang tidak ku katakan.


Hari berlalu, Yas mendiamkan ku. Dia marah padaku karena ia merasa aku telah membohonginya. Kini aku tidak punya pilihan lain selain berkata jujur pada Yas, mengatakan semua yang ku tahu tentang Dzaki.


Hari kembali berlalu tiba-tiba Dzaki marah padaku. Dia mengatakan banyak hal yang cukuo menyakitkan. Pria itu menuduhku sengaja merusak hubungan dia dan tunangannya. Astagfirullohaladzim …..


Sekali lagi aku berada di posisi yang di salahkan.


Tuhan hanya Kau yang maha mengetahui segala isi hati. Hanya Kau yang tau sakitnya hatiku mendengar segala perkataan dan tuduhan dari Dzaki.


Aku tidak tau lagi apa yang harus ku lakukan. Berbicara panjang lebar pun percuma. Segala yang ku lakukan selalu salah di mata Dzaki.

Aku ingat hari itu, dulu Dzaki pernah bertanya padaku “Kenapa kau tidak mau dijodohkan?”

Aku pun menjawab “Karena aku tidak ingin membohongi diri sendiri, tidak ingin membohongi orang lain dan siapa pun yang terlibat di dalamnya”.


Dzaki tau siapa yang ada dalam hatiku. Dzaki tau aku tidak pernah bisa membohongi diri sendiri. Aku mencintai seseorang karenanya aku tidak bisa berbohong dan menerima perjodohan atau lamaran dari orang lain.


Dzaki tau semua itu dan harusnya dari awal dia tau bahwa hal ini akan terjadi padanya.

Pernikahan bukan sekedar kompromi antar dua keluarga.

Sampai kapan kamu akan membohongi dirimu sendiri, sampai mati? Kamu tau aku yang akan lebih dahulu mati jika kamu tidak ada. Sikapmu itu tidak hanya menyakitimu tapi juga orang-orang di sekitarmu. Kamu sangat tau bagaimana perasaanku.

Iklan

Indonesia tanpa jeda

Beberapa hari ini dibuat kagum oleh beberapa adik (terpaksa harus menyematkan sebutan adik karena saya sadar diri, usia saya lebih tua dari mereka hhaha) mahasiswa dari beberapa Universitas yang ada di Indonesia. Adalah Muhammad Atiatul Muqtadir atau yang biasa dipanggil Fathur, presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Ketua BEM ITB, Royyan Abdullah Dzakiy.


Atiatul Muqtadir berbicara dengan tegas dalam menyuarakan kegelisahan masyarakat dan mahasiswa terkait penolakan RKUHP. Ia tampil di Indonesia Lawyer Club (ILC), Selasa (24/9/2019) malam. Tak hanya itu Fathur juga menjadi tamu di Mata Najwa bersama dengan Royyan. Keduanya berdebat dengan cara yang cerdas dan santun.
Melihat almamater yang mereka kenakan mengingatkan saya ketika berada di bangku kuliah dulu.


Apakah saat itu saya secerdas mereka? Tidak.


Apakah saat itu saya sekritis mereka? Tidak.


Apakah saat itu saya seberani mereka? Tidak.


Saya selalu kagum pada orang-orang yang melakukan satu hal yang tidak bisa saya lakukan. Saya kagum pada Fathur, Royyan, Doni dan Manik karena saya tidak secerdas, sekritis dan seberani mereka.


Saya ingat dulu ketika saya duduk di kantin makan, minum dan ngobrol bersama beberapa teman tiba-tiba seorang pria seusia saya berjalan ke tengah taman yang terletak tepat di antara gedung Fakultas Ekonomi dan Fakultas Teknik kampus tempat saya belajar. Pria itu mengenakan almamater dan membawa sebuah alat pengeras suara, dia menyerukan ajakan agar mahasiswa ikut bergabung menyuarakan aspirasinya. Lalu apa yang saya lakukan waktu itu? Maaf saya hanya bersikap acuh tapi ini bukan berarti saya berseberangan dengan pola pikir mereka justru saya pro hanya saja saya rada ogah kalau panas-panas di jalan hhehe.


Wajarlah jika kini Fathur dan Royyan banyak dikagumi oleh para gadis karena jika kita mencari tau lebih dalam kedua pria itu tidak hanya kritis dan berjiwa nasionalis tapi mereka juga cerdas dan memiliki banyak prestasi. Uda ganteng nasionalis pula, LA SITU yang sebelah sana ? Ganteng kagak rasis iya, cerdas kagak sombong iya hhahaha.

Kalau dulu semasa sekolah atau kuliah saya memiliki teman atau senior seperti mereka pastilah saya juga jatuh hati hhahaha ya wajar donk naksir pria cerdas, kritis dan nasionalis. Cinta bisa datang dari rasa kagum, kagum karena kecerdasaan dan pribadinya yang baik. Hal ini merupakan sesuatu yang lumrah bagi saya justru yang aneh tu kalau cinta datang hanya karena adanya doktrin dari orang sekitar dan perjanjian antar orang tua.


Apakah cinta hanya sebatas tentang siapa yang datang dan memberi iming-iming masa depan?

Apakah cinta hanya tentang apa ras ku dan apa ras mu?


Apakah cinta hanya sebatas siapa orang tua ku dan siapa orang tua mu?

Entahlah sampai sekarang saya juga tidak paham pola pikir orang-orang yang seperti itu.


Kembali ke topik awal,
Saya selalu salut kepada mereka yang berjiwa nasionalis. Saya bangga pada mereka yang memiliki kepedulian terhadap bangsa ini. Mungkin setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam menuangkan rasa cintanya tapi menulis adalah salah satu cara yang saya pilih untuk mengungkapkan perasaan termasuk rasa cinta terhadap bangsa dan negara, juga dia hhahaha.

Jujur selama satu tahun terakhir ini saya ingin menulis satu buku non fiksi pengembangan diri tentang rasa nasionalisme ; apa itu nasionalisme, bagaimana cara menanam dan memupuk rasa nasionalisme tersebut serta manfaat dan pentingnya sifat nasionalisme itu sendiri. Yang di dalamnya juga membahas tentang rasisme mulai dari definisi, contoh dan dampaknya. Dari buku itulah saya ingin menanamkan bahkan memupuk rasa nasionalisme pada tiap jiwa yang membacanya, meskipun saya juga gak terlalu nasionalis banget hhehe. Melalui buku itu saya juga ingin mereka mengerti bahwa dampak dari sifat rasis itu terkadang sangat menyakitkan bagi orang lain, saya ingin merubah doktrin yang ada di kepala seseorang atau bahkan orang-orang yang berpikir bahwa ras mereka adalah yang paling mulia dan memandang rendah ras lain.


Indonesia tanpa jeda adalah buku kedua yang saya tulis bersama ketiga teman saya. Di sinilah kami yang berasal dari latar belakang profesi berbeda mulai dari notaris, guru hingga dosen mencoba menuangkan rasa cinta, harapan dan doa untuk bangsa ini. Melalui rangkaian kata demi kata sedikit banyak kami ingin menumbuhkan atau bahkan memupuk rasa nasionalisme kita sebagai seorang warga negara. Menghapus arogansi dan menghilangkan sifat rasis, doktrin yang menganggap bahwa ras tertentu lebih baik dari ras yang lain.

Perbedaan tak seharusnya menjadi jeda pemisah. Saya, dia dan mereka bermula dari satu sejarah yang sama. Berbagai macam suku, ras dan budaya tak menjadi alasan untuk tidak bersama ;

Indonesia Tanpa Jeda 🇮🇩 Teruntuk kami dan mereka yang mencintai negeri indah ini, perasaan kita sama

Teruntuk siapa pun yang mencetak tebal kata perbedaan, leburkan kesombongan, mari kita buka hati dan pikiran

Semoga tak ada jeda di antara kita

Indonesia Tanpa Jeda

Ukuran : 14 x 21 cm
ISBN : 978-623-7301-78-3
Terbit : September 2019
Penerbit : Guepedia publisher


Penulis :
Miftahun Ni’mah seorang staff finance yang terus berupaya mengimbangkan isi otaknya dengan angka dan kata.

Novita Ratna Deviani seorang notaris yang hobinya ngehalu. Punya cita-cita buat menulis dan mencetak semua halusinasi yang berkunjung agar bisa dikasi nama dan dikenal banyak orang.

Faizatul Fitria seorang dosen yang terus berusaha mencari jati diri.

Lailil Wakhidatus Solikha seorang guru yang gemar memancing dunia seni untuk menggugah daya santap penikmat.

Dari kami untuk negeri terkasih 🇮🇩

Indonesia, saya mencintai mu tanpa jeda

Satu tahun Left in Jeddah


• • • • • •
Judul : LEFT IN JEDDAH
Penulis : Miftahun Ni’mah
Penerbit : One Peach Media
Terbit : September 2018
Cetakan pertama : Oktober 2018
ISBN : 978-602-52895-4-5
121 Halaman

Left in Jeddah atau dalam bahasa Indonesia yang berarti Tertinggal di Jeddah adalah novel pertama saya yang terbit pada bulan September 2018, ini berarti sudah satu tahun novel ini terbit dan diterbitkan oleh penerbit One Peach Media.


Jika dilihat dari sinopsisnya Left in Jeddah adalah novel bergenre romance yang menggunakan sudut pandang sebuah boneka monyet berukuran kecil. Dia lah yang menjadi saksi perjalanan hidup dan cerita cinta dua orang gadis yang bernama Allena dan Marwah.


Sebagai seorang penulis tentunya banyak pertanyaan yang datang pada saya seiring hadirnya buku ini, baik dari orang-orang yang sudah saya kenal atau pun para pembaca yang belum pernah bertatap muka. Saya pikir hal ini adalah sesuatu yang wajar karena beberapa teman penulis yang saya kenal juga sering dihadapkan pada situasi yang seperti ini. Bisa dibilang hampir semua.


Salah satu pertanyaan yang paling sering saya dengar dan saya baca adalah ;

Apakah cerita yang ada dalam novel ini adalah kisah nyata atau bahkan pengalaman pribadi dari penulis?


Pertanyaan yang cukup menggelitik bagi saya hhehe. Dulu ketika beberapa teman mempertanyakan hal ini saya selalu mencoba untuk bersikap profesional dan memberi jawaban yang singkat agar tidak melebar kemana-mana tapi kali ini saya akan memberi tanggapan yang berbeda, saya akan menjelaskannya secara panjang lebar hhehe.

Ok, hampir 80% cerita yang ada di dalam novel Left in Jeddah adalah terinspirasi dari pengalaman hidup seseorang tapi tetap saja buku ini adalah cerita fiksi jadi wajar jika saya membumbuhinya dengan sedikit halusinasi. Tidak mungkin donk dalam kehidupan nyata ada sebuah boneka monyet yang bisa bergerak, berbicara dan membaca seperti tokoh central yang ada dalam cerita ini dan hal tersebut adalah salah satu bentuk contoh dari kehaluan saya hhahaha. Tapi sosok boneka itu memang ada dan selalu duduk manis di dalam kamar saya.


Untuk tokoh lain seperti Furqon, Khalid dan Zaki saya mengambil karakter mereka dari beberapa orang yang sudah saya kenal. Tapi khusus untuk Khalid dalam kehidupan nyata dia tidak sesempurna seperti yang saya gambarkan di dalam novel hhehe.


Untuk Marwah sendiri justru tokoh tersebut saya temukan di dunia nyata setelah novel ini terbit. Seperti yang pernah saya tulis bahwa Marwah adalah salah satu dari tetangga Zaki, seorang gadis berusia 25 tahunan. Ya tokoh Marwah ini memang ada dalam dunia nyata, dia bukan hanya buah dari halusinasi.


Dalam kehidupan nyata Marwah memiliki latar belakang pendidikan seperti saya yakni Akuntansi. Dia bekerja di sebuah perusahaan untuk bagian Staff Accounting/Finance. Di samping itu Marwah dalam dunia nyata juga memiliki usaha sampingan, dia menjual salad buah. Jangan tanya bagaiamana rasanya karena saya juga belum sempat untuk mencicipinya hhehe.

Ada lagi yang tanya “Apa sich yang kamu mau dengan adanya novel ini?


Sebelum saya menjawab pertanyaan tersebut sedikit saya akan bercerita tentang hobi saya dalam dunia literasi.


Pertama kali saya membaca novel adalah saat saya duduk di bangku SMP. Sejak saat itu saya suka menulis. Perlahan tumbuh keinginan untuk membuat sebuah novel namun sayang harapan itu amat sulit untuk saya wujudkan, ada aja alasannya. Hingga akhirnya pada tahun 2018 saya berhasil menyelesaikan tulisan saya ini. Cukup menyenangkan bagi saya pribadi karena hal ini berarti tekad yang ada dalam diri saya bisa mengalahkan rasa malas yang sering kali datang.
Saya lupa kapan pertama kali saya menulis novel ini tapi seingat saya proses penulisan Left in Jeddah memakan waktu sekitar tiga bulanan.

Untuk apa dan untuk siapa?


Seperti satu kalimat yang pernah saya tulis dalam novel ini ;


Aku tidak tau kenapa tiba-tiba Zaki marah padaku, dia mengatakan banyak hal yang tidak aku mengerti.


Dari kalimat itu kita bisa menangkap dengan jelas tentang seorang gadis yang tengah berada dalam tanda tanya besar mengenai sikap dari seorang pria yang ia cinta. Bahwa pria itu tiba-tiba berubah dan mengatakan banyak hal yang tidak ia mengerti.


Maka jika ada yang bertanya untuk apa saya menulis cerita ini, tentunya untuk mendapat jawaban dari sikap Zaki tersebut.


Lalu apa saya sudah mendapatkan jawabannya?


Ya,


Meski terasa amat sangat menyakitkan bagai tersambar petir tapi kini Allena tau dengan pasti kenapa sikap Zaki terkesan sering kali berubah-ubah. Sedikit banyak Allena juga telah mendapat gambaran tentang bagaimana pola pikir seseorang yang seperti Zaki.


Kenapa dan bagaimana?


Perbedaan.


Bagi Zaki, Allena adalah seorang gadis yang berbeda dunia, golongan dan ras dengan dirinya.


Namun lain hal nya bagi Allena,


Menurut Allena dirinya dan Zaki adalah sama yakni hamba Allah jika ada perbedaan di antara keduanya maka itu hanyalah terletak pada pola pikir mereka.


“Jika ada perbedaan di antara aku Zaki maka itu bukan karena ras yang ada pada diri kami namun perbedaan itu terletak pada apa yang ada di dalam kepala kami. Aku adalah orang yang percaya dan meyakini bahwa derajat manusia ditentukan dari ketakwaannya bukan hanya dari ras yang ada pada diri orang tersebut. Aku adalah pribadi yang menilai orang lain dari dirinya sendiri bukan dari siapa orang tua dan keluarganya. Tapi keyakinan ini sepertinya tidak ada dalam benak atau pun kepala Zaki. Dia menilai orang lain hanya dari ras dan siapa keluarganya”.


Allena dan Zaki bagai dua manusia yang hidup di abad yang berbeda.


Zaki adalah pria yang percaya pada perjodohan. Dia bisa mencintai seseorang hanya dengan melihat fotonya. Hanya karena orang tua nya berkata bahwa gadis itu adalah yang terbaik untuknya. Zaki adalah pria yang percaya dan yakin bahwa semua yang dikatakan oleh kedua orang tua nya adalah benar dan tidak pernah salah.


Sementara Allena, dia adalah seorang gadis yang sampai sekarang belum bisa percaya pada konsep perjodohan. Baginya cinta tidak sesederhana itu. Dia tau cinta bisa datang karena terbiasa bukan dibiasakan. Cinta adalah perasaan yang tumbuh dari lubuk hati terdalam bukan berasal dari doktrin orang sekitar. Pernikahan adalah sebuah ikatan suci bukan sekedar perjanjian antar dua keluarga.


Allena adalah seorang gadis yang yakin bahwa Tuhan menganugerahkan akal pikiran untuk hambanya bukan tanpa alasan melainkan agar setiap orang bisa berpikir, menilai dan melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya sendiri bukan sekedar apa kata orang tua.


Allena adalah seorang gadis yang percaya bahwa setiap manusia harus berjuang untuk mendapatkan cinta dan cita-citanya.


Zaki tau aku bisa melintas dari satu samudera ke samudera yang lain hanya untuk bertemu dengannya


Zaki tau aku bisa menunggu nya ribuan waktu


Zaki tau aku bisa menolak siapa pun yang datang karena hanya dia yang ku inginkan


Zaki tau semua itu tapi dia tidak bisa melakukan seperti apa yang telah ku lakukan untuknya


Lalu sampai kapan aku berjuang sendiri?

Sedikit pun aku tidak menemui ada nya larangan tertulis bahwa cinta ku untuk Zaki adalah dosa hanya karena kami berasal dari ras yang berbeda. Mungkin aku tidak bisa merubah pola pikir Zaki yang seperti itu tapi setidaknya setelah hari ini aku mencoba menanamkan dalam pikiran orang-orang di sekitarku bahwa terkadang dampak dari sikap rasis itu menyakitkan.

Dan bagi yang bertanya kapan Left in Jeddah 2 rilis?


Maka jawabannya adalah … Insha Allah secepatnya hhahaha … doakan yaaa


Thanks

Wahd

W/HD-2015
PENULIS: Miftahun Ni’mah
ISBN: 978-623-229-070-9
Penerbit : Guepedia Publisher
Ukuran : 14 x 21 cm
Tebal : 76 halaman
Harga : Rp59.000

Secangkir kopi dan segelas jus jambu

Aku tidak berbicara tentang hari ini melainkan saat itu lebih tepatnya satu tahun tiga bulan dua puluh hari sebelum hari ini. Ketika surya di kota senja menyapa diri untuk yang pertama kali. Menyambut kedatangan tanpa suara dan kata.
Aku tidak akan berbicara tentang karma karena aku pun hanyalah seorang pendosa, hamba Allah yang jauh dari sempurna.


Aku tidak berbicara tentang kedustaan atau apapun yang menjadi alasan dan alibimu. Aku hanya seseorang yang sedang duduk sendiri menikmati rintik air hujan dari balik kaca jendela yang pada akhirnya memaksaku untuk kembali mengingat tentang kamu dan hari itu.
Ya, kamu


Kau melihatku? Tiada pernah
Aku hanya seorang hamba yang bersembunyi di balik air mata. Menyusuri jalan di sepanjang kota dengan hati yang melebur dan hancur karena lisan yang berdusta.


Aku tak meminta senja atau malam yang panjang agar secangkir kopi mu bisa bersanding dengan segelas jus jambu milikku di atas meja karena aku dan kamu bukanlah dua manusia yang akan mencuri waktu untuk sekedar duduk berdua dan berbicara tentang cinta.


Aku hanya berbisik pada kedua malaikat yang berada di samping kanan dan kiri. Berdoa agar waktu bisa berjalan lambat atau bahkan terhenti lalu langkah kakimu melaju dengan cepat dan mengantar bayangmu menemui ku di bandara.
Hanya itu doa ku di ujung waktu
Di kota senja.

Tersedia di :

GUEPEDIA
https://www.guepedia.com/Store/lihat_buku/MzQ5Nw==

TOKOPEDIA
https://www.tokopedia.com/guepedia/w-hd-2015

BUKALAPAK
https://www.bukalapak.com/p/hobi-koleksi/buku/sastra/1j6f10j-jual-whd2015?keyword=

SHOPEE
https://shopee.co.id/W-HD-2015-i.3104041.2095094305

FACEBOOK
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=2173079723002596&set=a.1375179096126000&type=3&theater

INSTAGRAM
https://www.instagram.com/p/BwEQWR9nWmk/

PLAY STORE

https://play.google.com/store/books/details?id=fo2UDwAAQBAJ

Email : guepedia@gmail•com
WA di 081287602508

33 Letters for him (Wahd)
PENULIS: Miftahun Ni’mah
ISBN: 978-623-229-266-6
Penerbit : Guepedia Publisher
Ukuran : 14 x 21 cm
Tebal :75 halaman
Harga : Rp59.000

Sinopsis:

Tentang tiga puluh tiga surat yang ditulis oleh tiga puluh tiga jiwa yang diperuntukkan hanya untuk satu hati dan satu nama dengan satu maksud dan satu harapan yang sama.
.

Aku tidak tau bagaimana orang lain saat mencinta. Apakah mereka akan seperti aku yang setiap saat selalu ingin tau kabarmu. Melihat, menghitung lalu mempermasalahkan selisih waktu saat chat terkirim, diterima dan dibaca.

Apakah mereka akan seperti ku yang setiap saat bisa menaruh rasa cemburu kepada siapapun yang pernah menjadi bagian dari masa lalumu. Mencari tau, mendeteksi lalu memperkirakan kemungkinan-kemungkinan yang mungkin telah dan akan terjadi.

Untuk sejenak aku merasa teduh tapi pada detik berikutnya rindu dan cemburu itu kembali menggebu membakar akal sehat.

Namanya Ali Wahd, aku sangat mencintainya dan dia tau akan hal itu.
Indonesia, Mei 2019

Zahra

Email : guepedia@gmail•com
WA di 081287602508

Happy shopping & reading

Enjoy your day, guys

Hadir di :

GUEPEDIA
https://www.guepedia.com/Store/lihat_buku/MzkyNw==

TOKOPEDIA
https://www.tokopedia.com/guepedia/33-letters-for-him-wahd

BUKALAPAK
https://www.bukalapak.com/p/hobi-koleksi/buku/buku-lainnya/1qhidqu-jual-buku-33-letters-for-him-wahd?keyword=

SHOPEE
https://shopee.co.id/33-Letters-for-him-(Wahd)-i.3104041.2225676382

FACEBOOK
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=2194446147532620&set=a.1375179096126000&type=3&theater

INSTAGRAM
https://www.instagram.com/p/Bxd6j0VHbCy/

Jagad Maha Aksara

TELAH HADIR DI :

GUEPEDIA
https://www.guepedia.com/Store/lihat_buku/MzY1MQ== TOKOPEDIA
https://www.tokopedia.com/guepedia/jagad-maha-aksara

BUKALAPAK
https://www.bukalapak.com/p/hobi-koleksi/buku/novel/1m32dcw-jual-jagad-maha-aksara?keyword=

SHOPEE
https://shopee.co.id/Jagad-Maha-Aksara-i.3104041.2141956124

FACEBOOK
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=2181436428833592&set=a.1375179096126000&type=3&theater

INSTAGRAM
https://www.instagram.com/p/BwoGmLBHI4e/

Play Store :

https://play.google.com/store/books/details?id=1ICWDwAAQBAJ

Jagad Maha Aksara

PENULIS: Novita Ratna Deviani, Miftahun Ni’mah, Lailil Wakhidatus Solikha, Faizatul Fitria

ISBN: 978-623-7208-36-5
Penerbit : Guepedia Publisher
Ukuran : 14 x 21 cm
Tebal : 103 halaman
Harga : Rp64.000

Sinopsis :

Kumpulan cerpen

ANKUR: Ngatiyem yang tipe idealnya terperangkap pada tubuh Ankur, si pemuda hindustan yang benci kaum muslim.

ANDUK: Perjuangan gadis SMA yang memutuskan menjadi dukun.

BENING: Gadis Jawa yang terancam jadi fakir karena punya pembimbing seperti Ong Jin Woo.

GEMI: Si pembuat onak yang selalu diperlakukan baik oleh Kana Keswari.

LUKA: Pemuda yang memutuskan untuk menjadi polisi saat ayahnya sendiri dibunuh oleh polisi.

SURGA LEBIH DEKAT: Menceritakan tentang kembimbangan seorang gadis saat mengenal dua orang pria dalam hidupnya yang berbeda keyakinan.

CENTANG DUA: Tentang seorang gadis yang selalu merasa diabaikan.

DALAM DOA KEBENCIAN: Tentang seorang gadis yang kembali membuka kenangan lama setelah mendengar nama perempuan yang pernah ia benci mengudara dalam acara yang ia pandu.

DEAR ALLAH: Cerita tentang tiga hal yang datang dalam mimpi seorang gadis dan dua diantaranya menjadi nyata.

AKU BUKANLAH AISYAHMU: Tentang perempuan yang terlibat dalam cinta terlarang. Sekuat hati ia menolak perasaan tersebut.

VILA: Petualangan dua sahabat dengan uang terbatas dan hanya bermodal handphone lowbat.

TSUKI: Gadis mungil bertopi merah, menapaki aspal demi recehan.

ANAK KAMPUNG: Takdir baik akhirnya datang pada gadis kampung yang selalu diremehkan.

BELAJAR DARI SEORANG MURID: Guru kimia yang takjub pada muridnya yang akhirnya hapal Al-Quran.

JANGAN TAKUT BERMIMPI: Kisah bagaimana mimpinya keluar negeri menjadi kenyataan.

KARENA DENGANNYA AKU MERASA SURGA LEBIH DEKAT


Miftahun Ni’mah


“Aku sudah bertunangan.” ucapnya ringan.
Kalimat sederhana itu masih menjadi beban dalam benakku. Berputar-putar di dalam
kepala bagai lebah entah mengintari apa. Suaranya pun masih terngiang-ngiang tak karuan.
Kedua mata masih tertutup. Terasa berat untuk membukanya bukan karena rasa kantuk tapi
hati yang masih tersayat perih seolah enggan untuk menerima kenyataan. Mengingatnya seperti
menabur garam di atas luka, kulit yang berdarah.
Ku raih sebuah guling di sebelah kananku. Kuletakkan ia tepat di atas kepala, menutup
seluruh bagian wajah termasuk kedua mata. Aku ingin larut dalam tidur panjang. Sendiri dalam
gelap. Mencari tempat agar jauh dari dia dan semua berita tentangnya namun di mana aku bisa
menemukan tempat itu? Adakah alam lain selain tempatku bernapas pagi ini?
Haruskah aku mati agar seluruh organ yang ada di dalam tubuhku berhenti untuk bekerja. Memikirkan, mengingat dan menyebut namanya. Apakah kematian adalah jalan satu-satunya agar jiwa ini bisa merasakan kedamaian? Lalu bagaimana dengan siksa kubur?
Sungguh nyali ini menciut ketika harus mengingatnya. Aku manusia biasa yang masih berlumur dosa. Terlebih dalam agama ku bunuh diri adalah hal yang dilarang.

Kuangkat badan ku. Perlahan berjalan menuju arah lemari yang terletak tidak jauh dari
tempat tidur. Kuambil sebuah Al Quran berwarna hijau. Ini salah satu Al Quran yang pernah
kubeli di Madinah satu tahun yang lalu. Kucium lalu kudekap erat dalam pelukanku. Ku
tumpahkan air mata yang telah kubendung sepanjang malam seorang diri. Kini rasa itu telah
melebur menjadi satu antara rindu, cinta dan benci.


“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya” (QS. Al-Baqarah: 286).


Bayang seorang teman kembali terlintas dalam benakku.
“Apakah Tuhan itu ada?” tanya Vian di satu kesempatan.
Seketika aku ingin menampar gadis itu atas apa yang telah ia katakan di hadapanku.
Namun amarahku pun berubah menjadi iba seiring rona wajahnya yang kulihat semakin layu.
Jantung ku berdegub kencang, seolah sesuatu sedang bergemuruh di dalamnya. Kedua mata kami saling menatap tajam satu sama lain seakan mencari kebenaran tentang dua keyakinan yang berbeda.


“Aku lelah dengan hidupku,” ucap gadis berambut lurus sebahu itu sembari berlinangan
air mata sementara aku masih terdiam seribu bahasa.
“Aku ingin mati,” ucapnya kala itu.
Aku sadar permasalahan yang dihadapi Vian sangatlah berat bahkan lebih berat dari pada beban yang sedang ku rasakan saat ini. Aku hanya sedang merasa sakit hati atas apa yang telah
dikatakan Ali padaku. Sementara Vian, sejak kecil ia bahkan tidak tau siapa kedua orang tua
kandungnya.
“Apakah Tuhan itu ada?” pertanyaan Vian itu sering kali berputar dalam otakku di saat-saat tertentu.
Seperti malam ini.


Ponselku berdering seakan memecah kesunyian malam. Terlebih saat ku lihat nama Daniel terpampang jelas di atas layar yang sedang menyala terang. Tanpa berpikir panjang aku
pun menggeser tanda hijau yang ada di layar ponsel. Selang waktu kemudian kudengar suara
Daniel melalui sambungan telepon selular.


“Bagaimana kabarmu?” tanyanya dengan nada yang cukup lembut dan masih penuh
perhatian seperti sebelumnya.

Andai ia tau saat ini aku sedang berada pada salah satu titik terendah dalam hidupku.
Seperti raga yang tak bernyawa. Seperti jiwa yang sudah hilang arah. Air mata mulai menetes namun aku berusaha untuk menyekanya.


“Masih mencintai Ali?” tanyanya lagi.


Tidak salah. Daniel adalah orang yang paling mengerti aku meski kami yang berbeda
keyakinan dan justru hal inilah yang membuat dadaku terasa semakin sesak.


“Berceritalah, aku akan mendengar semua keluh kesahmu.” Masih melalui sambungan
telepon selular pria berkulit putih itu mencoba menenangkanku.

Kulempar pandanganku ke arah satu sisi kamar. Lebih tepatnya pada sebuah foto yang
terpajang di dinding. Potret diri ku bersama beberapa orang di kantor termasuk Daniel dan Vian.
Foto itu diambil beberapa hari setelah aku berkerja di perusahaan tersebut.


“Apakah pria itu menyakiti mu?” Tanya Daniel sekali lagi.
Aku masih terdiam tanpa sekalipun menjawab pertanyaan dari Daniel. Berdiri di tempat
yang sama menatap senyum Daniel yang tergambar dalam sebuah foto. Ia terlihat tampan
dengan mengenakan kemeja berwarna biru laut dan Vian berdiri tepat di sebelah kanannya
dengan mengenakan rok pendek berwarna hitam. Mereka tampak akrab satu sama lain.


“Kenapa kamu begitu baik padahal kita adalah dua orang yang berbeda keyakinan?” tanya ku pada pria berkulit putih itu.


“Dan kenapa Ali begitu jahat padaku” imbuhku dalam hati.


Hampir satu menit lamanya kami terdiam tanpa kata dan suara. Hanya detak jarum jam
di dinding yang terdengar di dalam kamar ini.


“Apakah keyakinanmu sedang goyah?” tanya Daniel lirih.
“Aku tidak tahu”. Air mata ku kembali tumpah tak terkendali.


Jarum pada jam dinding terus berputar ke kanan. Kedua mata pun mulai dibuai oleh lelap. Semua warna melebur dalam gelap. Jiwa melayang seakan melintasi dimensi waktu yang
berbeda.

Duduk seorang diri di satu tempat. Selintas terlihat tidak asing bagiku. Antara kedua mata dan langit terdapat payung megah bersanding satu dengan yang lainnya. Entah bagaimana mendadak hatiku dihinggapi kerinduan pada Raudha. Mencari jalan saat semilir angin sejuk menyusup dalam kerudung lebar yang kukenakan. Adakah seseorang yang akan membawaku pergi ke tempat istimewa bagai taman surga itu. Beberapa orang lalu lalang namun tak satu pun yang kukenal.


“Ya Allah, hamba ingin pergi ke Raudha” ucapku memelas seorang diri.


Masih kulihat pergerakan orang-orang itu, berjalan menuju ke arah pintu gerbang. Aku
menghampiri salah satu dari mereka. Kuperhatikan wajahnya dari jarak yang lebih dekat.

Dia seorang pria yang pernah kukenal, entah siapa namanya aku lupa.


“Kau mau mengantarku pergi ke Raudha?” tanya ku penuh harap dan tanpa rasa sungkan.
Sepersekian detik sang pria berbaju serba putih itu menatapku tidak lama setelahnya ia
menggelengkan kepala sebagai tanda penolakan. Jujur, aku merasa sangat sedih terlebih setelah
ia melangkah menjauh, meninggalkan kusendiri seolah tak pernah mengenalku.


Waktu terus berlalu namun aku masih terpaku di tempat yang sama. Harapan pun belum berubah.
Sendiri dan hanya berkawan hembusan angin namun partikelnya seakan meyakinkanku
bahwa pencarian ini akan berbuah jawaban.
Dua hingga tiga orang melintas lagi di depanku. Tanpa lelah aku menghampiri mereka
satu persatu.


“Apakah kau mau mengantar aku pergi ke Raudha?” tanyaku semakin memelas.
Tidak ada yang berbeda dari reaksi orang-orang tersebut. Mereka hanya melihatku
sepersekian detik lalu menggelengkan kepala dan menghilang dari pandanganku. Hal itu terjadi
secara terus menerus dan berulang-ulang.

Telah sampai di ujung lelah. Bahkan untuk mengangkat kepala pun aku tak mampu.
Tatapan mata membentur ubin tempat kaki berpijak.
Hening tanpa suara meski suasana tidak benar-benar sepi tanpa manusia. Burung
berterbangan pun hanya tertangkap oleh retina mata tanpa meninggalkan sedikitpun suara.


“Maaf aku tidak bisa mengantarmu ke Raudha” ucap Daniel entah dari mana. Suaranya
terdengar jelas menyapa indera pendengaranku. Ku cari kesegala penjuru namun wajahnya tak
juga kutemui.


“Daniel di mana kamu?” tanyaku setengah berteriak.


“Aku tidak akan pernah bisa mengantarmu pergi ke Raudha” suara itu kembali terdengar
di telingaku. Kalimat itu menjadi penekanan untuk apa telah ia katakan sebelumnya.


Masih berdiri di salah satu sisi pelataran Masjid Nabawi. Hanya melihat tanpa mampu
mendengar apapun selain suara pria berkulit putih itu.


Seolah belum berakhir bunga tidur itu kembali menyapa ku di malam yang berbeda dengan alur dan setting yang sama. Masih mencari jalan menuju Raudha di antara semilir angin
yang menyusup ke dalam kerudung hitamku. Kerinduan itu seakan merasuki setiap sel darah
yang mengalir dalam tubuhku. Terlihat beberapa merpati sedang terbang bebas, sesekali mereka
hinggap untuk mencari makan.


Seseorang menghampiriku, diulurkan tangan kanannya. Kulirik sekilas hanya sebatas
telapak tangan yang kulihat.


“Aku lah yang akan mengantar dan menunjukkan jalan padamu untuk menuju Raudha” suaranya terdengar tidak asing di telingaku.


Aku tahu siapa pria berkulit putih itu tanpa harus melihat mata dan menatap wajahnya.
Kubiarkan ia tetap berdiri di depanku untuk beberapa saat.


“Kenapa harus kamu?” tanya ku ringan masih dengan tatapan kosong dan kepala menunduk.


“Karena Daniel tidak akan pernah bisa mengantarmu pergi ke Raudha.” Jawab pria itu.
Nada bicaranya terdengar sangat berbeda meski lembut tapi tetap menyisahkan rasa sakit yang
luar biasa.


Tanpa banyak kata, akhirnya pria itu mampu meyakinkanku untuk mengikuti arah
langkah kakinya. Kami melintasi gerbang hijau itu secara bersama-sama. Dia tak lain adalah Ali.


Kedua mataku fokus pada gerak kaki pria itu.
Jiwaku kembali melayang seakan melintasi dimensi waktu yang berbeda.


Ya Allah, kenapa Engkau hadirkan lagi wajah Ali dalam mimpiku sementara Kau tau dia
telah memilih yang lain.


“Will you marry me?” tanya Daniel sembari menatap tajam kedua mata ku.
Tubuhnya terlihat kaku hingga tak bergerak sedikit pun. Masih duduk di tempat yang
sama dan kedua tangan berada di atas meja.
Kuselami arus matanya. Berharap bisa menemukan jawaban yang mampu meneguhkan
hati.
Sangat tidak mungkin bagiku untuk menolak pria itu terlebih setelah apa yang ia lakukan
untukku. Dialah satu-satunya pria yang tidak pernah menyakiti apalagi meninggalkanku bahkan
saat Ali pergi dan memilih perempuan lain, Daniel masih setia menemaniku.


Perlahan kututup kedua mata lalu kubiarkan doa-doa itu mengalir lembut dalam hati.


Ya Allah yang Maha Mengetahui, Engkaulah penulis skenario kehidupan manusia. Pada
detik ini kumohon Pada-Mu saat ajal datang padaku maka matikanlah aku dalam keadaan
muslim.


Ku raih segelas jus jambu yang ada di depanku. Perlahan ku teguk lalu kubiarkan kesegarannya memenuhi tenggorokanku. Sekali lagi kutatap mata Daniel lembut namun penuh arti.


“I’m so sorry” ucapku lirih.


Apakah tradisi itu harus selalu dilakukan?

Sumber foto : Hasan

Setiap orang atau setiap keluarga pasti memiliki tradisi yang biasa mereka lakukan. Sengaja atau tidak hal itu terus terjadi secara turun menurun. Satu hal yang sudah ada sejak zaman kakek nenek diturunkan kepada orang tua dan selanjutnya kepada anak lalu diteruskan ke cucu.


Pernah gak sich kita bertanya pada diri sendiri ;

Apa iya semua tradisi itu harus selalu diregenerasikan?

Apa iya semua tradisi yang ada itu berdampak positif sehingga keberadaannya perlu dilestarikan dari zaman ke zaman?

Apakah tidak semestinya ada sedikit perubahan untuk sesuatu yang mungkin bisa lebih baik?

Pernahkah kita berpikir tentang hal itu?

Memilah-milah lalu mencari jawaban dari sudut pandang sendiri.


Kembali pada pertanyaan awal “Apakah tradisi itu harus selalu dilakukan?”


Pertanyaan ini pernah saya lontarkan pada seorang teman dan dia tidak menjawabnya. Padahal seperti yang kita tau bahwa pertanyaan ini cukup sederhana, saya pribadi jika dihadapkan dengan pertanyaan seperti itu maka saya akan menjawab dengan tegas dan tanpa rasa ragu ;


“Tradisi yang sudah ada di dalam sebuah keluarga harus tetap dilakukan dan semestinya kita lestarikan jika memang memberikan dampak positif tapi sebaliknya jika tradisi tersebut sejatinya hanya bersifat negatif lantas kenapa tidak kita punahkan saja?”

Seperti halnya budaya rasis yang harus dipunahkan hhaha

Jika perubahan bisa membuat sesuatu menjadi lebih baik kenapa kita bertahan pada pola pikir yang lama?


Semisal dulu di keluarga saya masih ada yang berkata bahwa perempuan tempatnya adalah di dapur. Untuk hal ini jelas saya tidak sependapat.

Apa salahnya jika saya mencoba merubah pola pikir yang seperti itu? Apa salahnya jika saya berusaha membuktikan pada mereka bahwa perempuan juga bisa berkarir, perempuan juga bisa berprestasi dan perempuan juga berhak mendapat pendidikan yang setara dengan laki-laki.

Lalu apakah kamu pikir saya adalah orang yang keras kepala hanya karena jalan pikiran saya berbeda dengan sebagian anggota keluarga saya? Lalu apakah kamu pikir saya akan menjadi anak durhaka hanya karena saya mencoba melakukan perubahan pada tradisi kecil yang ada di dalam keluarga saya?

Saya ingat saat saya berusia 17 tahun saat itu saya sangat suka mendengarkan radio. Beberapa penyiar radio asal Surabaya menjadi salah satu idola saya hingga akhirnya tumbuh keinginan dalan benak saya untuk bisa seperti mereka menjadi seorang broadcaster.

Apakah kedua orang tua saya merestui? Tidak,

Banyak alasan yang mereka paparkan saat itu kenapa mereka melarang saya salah satunya karena ayah dan ibu masih awam tentang dunia tersebut. Lalu apakah saya harus menyerah dan hanya berdiam diri saja? Membiarkan impian saya hanya melayang dalam angan?

Maaf saya bukan pribadi yang seperti itu.

Sedikit demi sedikit saya mencoba menjelaskan dan memberi gambaran tentang bagaimana pekerjaan seorang broadcaster itu, tidak mudah memang terlebih saat itu saya masih berstatus sebagai seorang pelajar di mana saya juga harus pandai membagi waktu antara belajar, bermain dan menyalurkan hobi. Menjadi seorang broadcaster adalah cita-cita sekaligus hobi bagi saya. Di usia 17 tahun saya suka sekali mendengarkan musik dan sharing dengan siapa pun.

Singkat cerita orang tua pun akhirnya memberi ijin untuk saya bisa menjadi seorang broadcaster. Di sini lah sedikit demi sedikit saya mulai mencoba merubah pola pikir orang tua saya. Saya mulai bercerita dan mengatakan banyak hal yang belum pernah mereka dengar.


Untuk contoh lain,


Semisal ketika dihadapkan pada drama perjodohan. Sampai sekarang saya adalah orang yang belum bisa percaya pada konsep perjodohan.


Seorang teman bertanya ;

“Emang bisa kamu batalin perjodohan itu?”

Haloooo
Kenapa tidak bisa?! Ingat kita berada di negara yang demokratis. Kita punya hak untuk bersuara apalagi menentukan masa depan. Sejak kecil saya terbiasa menentukan pilihan saya sendiri, di mana saya akan melanjutkan pendidikan dan di mana saya bekerja adalah sepenuhnya hak saya untuk menentukannya dalam hal ini posisi keluarga hanya sebatas memberi saran dan arahan.


Menolak atau menerima sejatinya bukan perihal bisa atau tidak melainkan mau atau tidak mau. Mau berusaha atau pasrah. Mau berjuang atau menyerah.


Apa susahnya tinggal bersuara di depan orang tua bahwa kita tidak setuju dengan pilihan mereka. Apakah kamu pikir kita akan jadi anak durhaka hanya karena menolak pilihan orang tua? Apakah kamu pikir sebagai anak kita harus selalu mematuhi apapun yang menjadi keinginan dari orang tua kita? Banyak kok orang yang menolak ketika dihadapkan pada drama perjodohan. Kenapa? Karena mereka memiliki keyakinan dan pemikiran sendiri. Mereka mau memperjuangkan pilihan mereka sendiri.

Sejatinya tidak ada kata terlambat untuk berjuang.

Seperti yang pernah saya tulis di artikel sebelumnya Hidup tidak melulu apa kata orang tua, sebaik apapun ayah dan ibu kita tetaplah mereka manusia biasa yang juga tak luput dari salah. Ingat wujud bakti pada orang tua tidak serta merta ditunjukkan dengan cara mengikuti jalan pikiran mereka, tidak hanya dapat ditunjukkan dengan cara menerima perjodohan yang mereka rencanakan. Wujud bakti dan kasih pada orang tua bisa kita tunjukkan dengan cara lain, semisal mengajak mereka beribadah haji bersama mungkin.


Cinta bukan sekedar kesepakatan antar orang tua dan pernikahan bukanlah sebuah kompromi.


Dari wikipedia ; Cinta adalah sebuah emosi dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi.


Sebuah emosi dari kasih sayang yang sangat kuat ; “Sangat kuat” karenanya jangan heran ketika kamu menemukan seseorang yang jatuh cinta, perasaannya teramat dalam hingga ia menghabiskan waktunya hanya untuk menunggu.

Jangan heran jika kamu menemukan seseorang yang jatuh cinta rela berjuang mati-matian, bukan karena ia keras kepala tapi karena perasaannya yang teramat kuat.


That is love … true love.