Bandara

Dikutip dari blog Ustadz Arif Rinanda ;

Bandara. Bukan cuma tempat lalu lalang burung-burung besi. Di sana juga tempat berkumpulnya beraneka perasaan.

Ada banyak kebahagiaan di gerbang kedatangan. Senyum-senyum yang tiada henti mengembang. Gelak tawa penuh keakraban. Kecupan dan rangkulan hangat. Juga air mata bahagia dengan lisan yang terus bersyukur. Banyak rindu yang akhirnya mendarat dengan selamat di gerbang itu. Rindu-rindu yang terbalas tuntas. Layaknya seorang tahanan yang akhirnya bebas setelah sekian tahun lamanya dikurung dalam jeruji besi.

Dan ini kontras sekali dengan kondisi terkini gerbang keberangkatan.

Ada pelukan haru. Tetes demi tetes air mata perpisahan. Doa yang tiada putus. Dada yang dipenuhi gemuruh duka. Wajah yg dipaksakan untuk tegar. Mereka harus bersiap mendekam tahanan bernama kerinduan. Jarak dengan tega akan segera menceraikan kebersamaan mereka. Beberapa dari mereka bahkan ragu akankah kembali dipersatukan.

Dan kaum perantaulah yang paling mengerti tentang dua episode yg berbeda tadi.

Kebetulan saya bukan seorang perantau tapi sedikit banyak saya bisa memahami hal itu.

Bandara,

Siapa yang menunggu siapa di Bandara, ketika seseorang berkata “Tunggu saya di Balad jam 5 sore” sementara di waktu tersebut saya harus sudah tiba di Bandara, tepat pukul 5 sore seperti waktu yang ia sebutkan.

Bandar Udara Internasional King Abdul Aziz Jeddah, November 2017.

Seseorang membagi beberapa lembar kertas kecil satu diantaranya tertera nama saya. Mereka berjalan terburu menyelipkan tiket ke dalam paspor, saya mengikutinya. Kaki berjalan tapi hati memaku, kedua bola mata masih menatap lurus ke arah pintu masuk. Ada doa dan harapan yang seketika harus pupus. Biar senja menyapa biar warnanya memerah rasanya takdir tak akan berubah.


Benar saya pernah menunggunya.


Duduk di kursi tunggu selepas boarding. Beberapa kali menengok pintu masuk. Menyemburkan napas. Menengok lagi. Kaca besar yang menampakkan dengan jelas pesawat yang satu persatu bergerak mendekati angkasa makin membuat jantung riuh tak terkendali. Seperti ada yang tertinggal.

Namun di hari yang lain seseorang membuat saya melihat bandara dari kacamata yang berbeda. Dia bukan sosok yang dahulu pernah saya tunggu hingga larut malam di Bandara International King Abdul Azis Jeddah. Dia seseorang yang saya temui di Bandara International Juanda Surabaya.

Bandara menjadi saksi tentang siapa yang menunggu siapa dan siapa yang bertemu dengan siapa.

Satu hari di bulan November 2019 Bandara internasional Juanda terasa tak biasa. Setidaknya itu bagi saya karena satu episode baru dalam hidup di mulai dari tempat ini.

Ketika orang-orang melepas rindu dengan saling berpelukan dan menangis haru sesuatu justru sedang menari dalam dada saya. Dag dig dug adalah perasaan yang datang karena sebuah pertemuan bukan perpisahan. Karena nya kali ini saya yakin bahwa terkadang bandara tidak sejahat itu. Dia tidak selalu menjadi jeda dari sebuah cerita.

Bandara dan udara tidak selalu menjadi pemisah tidak untuk New York dan Jakarta tidak pula untuk Jeddah dan Surabaya.

Saya berdiri di antara beberapa kerumunan jamaah. Bisa dibilang sedang mengantri. Seorang pria tiba-tiba datang menghampiri ustadz yang tengah berdiri di depan saya. Mereka berbicara cukup lirih tapi suaranya masih bisa tertangkap oleh indera pendengar saya. Bukan menguping hanya spontan memperhatikan gerak mereka. Tubuhnya tidak terlalu tinggi, sebuah kacamata riben melingkar di bagian belakang kepalanya, posisi yang tidak seharusnya. Saya mencoba mengenali pria itu. Wajahnya tampak sedikit berbeda dari sebelumnya mungkin karena faktor keringat. Ya wajar dia baru saja mendarat di tanah air setelah hampir sepuluh jam berada di dalam pesawat, lelah itu pasti.

Seketika kepala ku tertunduk. Ada rasa canggung untuk menatapnya lebih lama.

Sekian menit berlalu pria itu masih berdiri di tempatnya tak bergeser sedikit pun. Ku angkat kepala untuk menatap wajahnya sekali lagi. Iya … itu dia, ini adalah pertemuan kedua kami. Bahasa dan tutur katanya halus terdengar lembut di telinga. Memberi hawa sejuk dalam dada yang sempat bergemuruh oleh rasa yang belum terdefinisi namanya.

Buat situs web Anda di WordPress.com
Mulai